Selasa, 19 April 2011

LP HIPOFISIS

PENDAHULUAN
Kelenjar hipofisis medula kelenjar yang sangat penting bagi tubuh manusia,
kelenjar ini mnegatur fungsi dari kelenjar tiroid, kelenjar adrenal, ovarium dan testis,
kontrol laktasi, kontraksi uterine sewaktu melahirkan dan tumbuh kembang yang
linear, dan mengatur osmolalitas dan volume dari cairan intravascular dengan
memelihara resorpsi cairan di ginjal.
Kelenjar hipofisis terletak pada sella turcica, pada konvavitas berbentuk sadel
dari tulang sphenoid. Superior dari kelenjar hipofisis terdapat diaphragma sella, yang
merupakan perluasaan secara transversal dari duramater dimana tungkai hipofisis
menembusnya. Diatas diaphragma ini terletak nervus optikus, chiasma dan traktus.
Pada dinding lateral dari sella terdapat dinding medial dari sinus kavernosus yang
berisi N III, IV, VI, V1,V2 dab A.karotis interna.
Kelenjar hipofisis terdiri dari 2 lobus, lobus anterior dan lobus posterior, pada
lobus anterior kelenjar ini terdapat 5 type sel yang memproduksi 6 hormon peptida.
Sedangkan pada lobus posterior dilepaskan 2 macam hormon peptida. Sekresi
hormon pada adenohipofisis diatur oleh hypothalamus dan oleh umpan balik negatif
dari target organ. Sedangkan pada nuerohipofisis vassopresin (ADH) dan oxytocin
diproduksi oleh hypothalamus lalu dibawa dan ditimbun untuk akhirnya dilepaskan
dri hipofisis. Berbagai faktor dari hypothalamus mempengaruhi lebih dari satu type
sel pada lobus anterior dan mempengaruhi sekresi lebih dari satu macam hormon
lobus anterior, miss TRH akan merangsang produksi TSH juga merangsang
pelepasan prolactin.
Tumor pada kelenjar ini akan memberikan gejala oleh karena adanya efek
masa atau gangguan produksi hormon pada penderitanya. Evaluasi endokrin
diperlukan untuk mengkonfirmasi ada atau tidak adanya suatu endokrinopathy yang
akan menolong menetapkan etiologinya.
TUMOR KELENJAR HIPOFISIS
Sekitar 10% dari seluruh tumor intrakranial merupakan tumor hipofisis,
terutama terdapat pada usia 20-50 tahun, dengan insiden yang seimbang pada lakilaki
dan wanita. Adenoma hipofisis terutama timbul pada lobus anterior hipofisis,
pada lobus posterior (neurohipofisis) jarang terjadi, tumor ini biasanya jinak.
Klasifikas.
Ada beberapa klasifikasi yang digunakan untuk tumor hipofisis, yaitu:
A. Klasifikasi berdasarkan gambaran patologi (mulai jarang digunakan)
1. chromophobe, asalnya dianggap sebagai non fungsional, walaupun pada
kenyataannya memproduksi prolactin, GH atau TSH. Perbandingan insiden
antara chromophobe dengan acidophil 4-20:1
2002 digitized by USU digital library 2
2. Acidophil (eosinophilic), memproduksi prolactin, TSH dan GH yang
menyebabkan acromegaly dan gigantisme
3. basophil, memproduksi LH, FSH, beta lipoprotein dan terutama ACTH yang
menyebabkan caushing’s disease.
B. Klasifikasi berdasarkan gambaran radiology
1. Grade 0: tumor tidak terlihat secara radiologi
2. Grade I dan II: adenoma yang terbatas dalam sella turcica
3. Grade III dan IV: adenoma yang menginvasi ke jaringan sekitarnya
Berdasarkan penyebarannya tumor ke extrasellar maka dibagi lagi dalam
subklasifikasi berikut:
1. A,B,C yaitu penyebaran langsung ke suprasellar
2. D yaitu perluasan secara asimetrik ke sinus kavernosus
3. E yaitu perluasan secara asimetrik ke sinus intrakranial
C. Klasifikasi berdasarkan hormon yang diproduksinya, tumor pada kelenjar
ini dibedakan menjadi 2 jenis:
1. Adenoma hipofisis non fungsional (tidak memproduksi hormon)
2. Tumor hipofisis fungsional yang terdiri dari:
a. adenoma yang bersekresi prolaktin
b. adenoma yang bersekresi growth hormon (GH)
c. adenoma yang bersekresi glikoprotein (TSH, FSH, LH)
d. adenoma yang bersekresiadrenokortikotropik hormon (ACTH)
1. Adenoma Hipofisis non fungsional
Tumor ini berkisar sekitar 30% dari seluruh tumor pada hipofisis.
Biasanya muncul pada dekade ke 4 dan ke 5 dari kehidupan, dan biasanya
lebih sering ditemukan pada laki-laki daripada wanita. Nama lain dari tumor
ini yaitu Null cell tumor, undifferentiated tumor dan non hormon producing
adenoma.
Karena tumor ini tidak memproduksi hormon, maka pada tahap dini
seringkali tidak memberikan gejala apa-apa. Sehingga ketika diagnosa
ditegakkan umumnya tumor sudah dalam ukuran yang sangat besar, atau
gejala yang timbul karena efek masanya. Tumor biasanya solid walaupun bisa
ditemukan tumor dengan campuran solid dan kistik.
Gejala klinis:
a. nyeri kepala
b. karena perluasan tumor ke area supra sella, maka akan menekan
chiasma optikum, timbul gangguan lapang pandang bitemporal.
Karena serabut nasal inferior yang terletak pada aspek inferior dari
chiasma optik melayani lapang pandang bagian temporal superior
(Wilbrand’s knee), maka yang pertama kali terkena adalah lapang
pandang quadrant bitemporal superior. Selanjutnya kedua papil akan
menjai atrophi.
c. Jika tumor meluas ke sinus cavernosus maka akan timbul kelumpuhan
NIII, IV, VI, V2, V1, berupa ptosis, nyeri wajah, diplopia. Oklusi dari
sinue akan menyebabkan proptosis, chemosis dan penyempitan dari a.
karotis (oklusi komplit jarang)
d. Tumor yang tumbuh perlahan akan menyebabkan gangguan fungsi
hipofisis yang progressif dalam beberapa bulan atau beebrapa tahun
berupa:
• Hypotiroidism, tidak tahan dingin, myxedema, rambut yang kasar
2002 digitized by USU digital library 3
• Hypoadrenalism, hipotensi ortostatik, cepat lelah
• Hypogonadism, amenorrhea (wanita), kehilangan libido dan
kesuburan
• Diabetes insipidus, sangat jarang
Walaupun gangguan lapang pandang bitemporal dan hypopituitarism yang
berjalan progresif merupakan gejala klinik yang khas pada tumor ini, kadangkadang
adenoma hipofisis yang besar memberikan gejala yang akut akibat
adanya perdarahan atau Infark. Tumor intrakranial yang paling sering
menimbulkan perdarahan adalah adenoma hipofisis. Adanya perdarahan yang
besar ke dalam tumor hipofisis akan menyebabkan gejala nyeri kepala yang
tiba-tiba, penurunan kesadaran gangguan penglihatan dan insufisiensi
adrenal yang akut. Pasien yang menderita abcess pada hipofisis akan
memberi gejala yang sama disertai demam. Menurut Wilson sekitar 3%
makroedenoma menunjukkan Pituitary apoplexi.
Pemeriksaan:
a. pada rontgen foto lateral tengkorak terlihat sella turcica membesar,
lantai sella menipis dan membulat seperti balon. Jika pertumbuhan
adenomanya asimetrik maka pada lateral foto tengkorak akan
menunjukkan double floor. Normal diameter AP dari kelenjar hipofisis
pada wanita usia 13-35 tahun < 11 masing-masing, sedang pada yang
lainnya normal < 9 masing-masing.
b. MRI dan CT scan kepala, dengan MRI gambaran a.carotis dan chiasma
tampak lebih jelas, tetapi untuk gambaran anatomi tulang dari sinus
sphenoid CT scan lebih baik.
c. Test stimulasi fungsi endokrin diperlukan untuk menentukan gangguan
fungsi dari kelenjar hipofisis.
Diagnosa banding:
a. Tubercullum sella meningiomas, mirip dengan adenoma hipofisis,
tetapi pada foto lateral tengkorak tidak menunjukkan pembesaran dari
sella. Tubercullum sella meningioma mungkin akan menyebabkan
penipisan dari tubercullum
b. Aneurisma a. carotis interna yang besar akan mengisi sella turcica,
dengan MRI dan arteriografi akan tampak lebih jelas
c. Craniopharyngioma walaupun biasanya supra sellar tetapi kadangkadang
terdapat pada sella turcica.
d. Tumor metastase ke sella, biasanya berhubungan dengan adanya
parese otot extra oculer dan diabetes insipidus, pada adenoma
hipofisis gejala ini jarang terdapat.
e. Kista celah kantung Rathke’s kadang berupa masa yang besar di supra
sellar atau sellar
f. Tuberculoma
g. Giant cell hypophysitis
h. Sarcaidosis
Terapi:
a. Operasi
• Operasi secara mikroskopik transsphenoidal, dengan indikasi
adanya visual loss dan hypopituitarism yang progressif
• Pada pasien dengan gangguan fungsi tiroid atau ACTH, operasi
ditanguhkan 2-3 mg sampai pasien mendapat terapi tiroid atau
terapi pengganti hidrocortison
2002 digitized by USU digital library 4
• Pada pasien dengan visual loss yang akut atau adenoma yang
berhubungan dengan perdarahan atau abcess maka operasi segera
perlu dipikirkan
• Tujuan utama dari operasi transphenoidal yaitu mengangkat
adenoma sekomplit mungkin, tetapi adanya invasi ke dura dan
sinus kavernosusu menyulitkan hal tersebut.
b. Radiasi
Indikasi: pada pasien dengan usia yang lanjut dengan kesehatan yang
tidak stabil, pada pasien post operasi dengan residual tumor yang besar
atau tumor yang tumbuh kembali.
Dosis: 4000-5000 c Gy selama 5-6 minggu.
Komplikasi terapi radiasi bisa menyebabkan nekrosis jaringan dan
selanjutnya timbul gangguan penglihatan yang progresif dan gangguan
fungsi endokrin yang progresif sampai panhypopituitarism yang
memerlukan terapi hormonal oleh seorang endokrinologist.
Pada keadaan tumor menginvasi ke dural, pada kebanyakan kasus, tanpa
terapi radiasi pasien tetap sehat untuk jangka lama. Terapi dengan teknik
radiasi berfokus seperti Gamma Knife, Proton beam dan Linac acceleration
sudah dilakukan dan hasilnya masih belum bisa ditentukan.
c. Obat-obatan
Dimasa mendatang terapi obat-obatan akan berperan pada penderita
adenoma non fungsional, dimana pada kenyataannya ternyata adenoma
ini memproduksi hormon glikoprotein atau subarakhnoid unit dari salah
satu hormon tersebut. Terapi dengan somatostatin dan Gonadotropin
releasing hormon antagonis mungkin menjadi kenyataan.
d. Evaluasi
• Evaluasi dengan MRI dan CT scan sebaiknya dilakukan 4-6 mg post
optikus, sesudah perdarahan dan intra seluler akan diikuti dengan
perbaikan lapang pandang
• Sekitar 20% pasien post optikus transphenoidal akan mengalami
rejurensi, jika terapi ditambah dengan terapi radiasi rekurensi akan
menurun sampai sekitar 13%
• Sesudah operasi dekompresi, fungsi penglihatan akan membaik
pada sekitar 80% pasien dan kembali normal pada sekitar 50%
pasien, sedangkan status endokrin kadang-kadang membaik (miss
kesuburan akan kembali pada sekitar 70% pasien)
2. Tumor Hipofisis fungsional
Pada penelitian dari 800 pasien yang menderita tumor hipofisis, 630 pasien
merupakan tipe functioning pituitary tumors yang terdiri dari:
• 52% merupakan tumor yang mengsekresikan prolactin
• 27% tumor yang mengsekresikan GH
• 20% tumor yang mengsekresikan ACTH
• 0,3% tumor yang mengsekresikan TSH
kelenjar hipofisis bagian anterior berperan dalam sekresi dan pengaturan dari
berbagai hormon peptida dan stimulating factor. Tumor yang berasal dari bagian
ini akan memproduksi secara berlebihan beberapa atau salah satu dari hormon
poptida, jika ini terjadi maka dinamakan fungsional atau secreting adenoma
Kelenjar hipofisis bagian anterior berada dibawah kontrol stimulasi
hypoyhalamus, berturut-turut ACTH, GH, Prolactin, TSH, LH dan FSH dikontrol
oleh hormon hypothalamus corticotropin releasing hormon (CRH), growth hormon
2002 digitized by USU digital library 5
ereleasing factor (GRF), Dopamin , Thyroid releasing hormon (TRH) dan
gonadotropin releasing hormon (GnRH). Pengaturan ini berjalan melalui sistim
pembuluh darah portal yang menghubungkan hypothalamus dengan kelenjar
hipofisis bagian anterior. Hypothalmic releasing factor semuanya berdasarkan
kontrol umpan balik negatif dari produksi target organ.
Adanya adenoma kelenjar hipofisis anterior bisa dideteksi dengan melihat
aktifitas endokrin dan dengan immunohisto chemical staining.
Immunohistochemical staining bisa menunjukkan adenoma yang memproduksi
hormon peptida, termasuk adenoma yang sebelumnya diduga tidak bersekresi
ternyata memproduksi peptida inactive, salah satu yang paling sering yaitu alpha
subarakhnoid unit yang efeknya terhadap sistemik tidak diketahui.
Berdasarkan ukurannya adenoma dibagi sebagai berikut:
a. Mikroadenoma
• Ukuran kurang dari 1 cm
• Lokasi selalu masih dalam sella turcica dan belum menginvasi struktur
yang berdekatan seperti sphenoid dan sinus cavernosus
• Ditemukan karena adanya endokrinopathy
• Seringkali ketika diagnosa ditegakkan ukuran tumor 50% < 5mm
b. Makroadenoma
• Ukuran lebih dari 1 cm
• Bisanya sudah meluas dari sella turcica dan sudah menginvasi struktur
yang berdekatan
• Ditemukan karena adanya efek kompresi dari tumor, seperti bitemporal
hemianopsi selain adanya gangguan endokrin, bisa hyper atau hypo
sekresi.
Pasien dengan gangguan endokrin yang tidak jelas, tetapi tumornya ada
kadang-kadang memerlukan tindakan angiography untuk menyingkirkan
adanya aneurisma a. karotis.
2.1 Adenoma yang bersekresi Prolaktin
Prolactin diperlukan untuk laktasi normal pada wanita post partum, dimana pada
wanita menyusui kadarnya 150-200 ng/ml. Normal kadar prolactin pada laki-laki
kurang dari 15 ng/ml, pada waita tidak hamil kurang dari 20 ng/ml. Selain oleh
karena adanya adenoma kadar prolactin akan meningkat pada keadaan
kehamilan, stress, hipoglikemi, gagal ginjal, hypothyroidism dan terapi dengan
phenothiazine. Kadar prolactin yang berlebihan akan menyebabkan
dilepaskannya dopamin /PIF oleh hypothalamus, kontrol inhibisi ini penting
dalam terapi medis dari prolactinomas
Insiden tumor ini berkisar sekitar 40% dari semua adenoma hipofisis dan
biasanya bersifat simptomatik pada wanita. Tumor ini merupakan mikroadenoma
yang paling sering ditemukan.
Gejala:
Hyperprolactinemia pada wanita didahului amenorhoe, galactorhoe, kemandulan
dan osteoporosis. Pada laki-laki biasanya asimptomatik atau timbul impotensi
atau daya sexual yang menurun. Karena perbedaan gejala tersebut maka tumor
ini pada laki-laki biasanya ditemukan jika sudah menibulkan efek kompresi pada
struktur yang berdekatan.
Diagnosa:
Penilaian kadar serum prolactin, kadar serum lebih dari 150 ng/ml biasanya
berkorelasi dengan adanya prolactinomas. Kadar prolactin antara 25-150 ng/ml
terjadi pada adanya kompresi tangkai hipofisis sehingga pengaruh inhibisi
dopamin berkurang, juga pada stalk effect (trauma hypothalamus, trauma
2002 digitized by USU digital library 6
tungkai hipofisis karena operasi), akibat obat-obatan miss phenothiazines dan
pada hipotiroidisme primer.
Diagnosa banding:
Penyebab non patologik:
• Kehamilan
• Stress
• Menyusui
Penyebab primer dari hipofisis:
• Proclatinomas
• Depresi tangkai hipofisis oleh nonpralcatin secreting adenoma
• Trauma tangkai hipofisis
• Empty sella syndroma
• Tekanan sistematik
• Gagal ginjal
• Penyakit hati
• Operasi dinding dada atau trauma
Penyebab pharmakologik
• Gol phenothiazinne
• MAO inhibitor
• MAO depleters
• Oral kontrasepsi
Obat-obatan
Bromocrptine (parlodel) suatu dopamin agonist, merupakan terapi pilihan
untuk prolactin secreting adenoma, menggantikan terapi operasi. Obat ini secara
langsung akan merangsang dopamin reseptor pada lactotrops (prolactin screeting
cells). Respon terhadap terapi bromocrpitin sangat jelas, kadar prolactin akan
menurun dalam beberapa hari, disertai dengan membaiknya lapang pandang,
fungsi endokrin akan kembali normal, siklus mens kembali teratur dan fungsi
libido pada laki-laki membaik. Selain kehamilan dan perburukan yang cepat dari
fungsi penglihatan, tidak ada kontra indikasi lain dari pemakaian obat ini.
Bromocriptine bukan merupakan tumoricidal sehingga kemungkinan tumor
tumbuh kembali bisa terjadi setelah terapi dihentikan, sehingga setelah terapi
berlangsung beberapa tahun perlu dievaluasi apakah terapi perlu dilanjutkan.
Efek samping, mual dan muntah, efek teratogenik pada wanita hamil
Wanita yang mempunyai ukuran tumor > 12 masing-masing sebaiknya menjalani
operasi reseksi sebelun dia hamil, untuk mencegah rangsangan pembesaran
tumor oleh karena kehamilannya.
Operasi
Indikasi: pasien yang intoleran atau respon yang minimal terhadap
bromocriptine, pasien dengan perburukan yang cepat dari fungsi penglihatan dan
pasien sesudah 2 bulan terapi medis tidak ada kemajuan.
Terapi awal dengan bromocriptine untuk mengecilkan tumor lalu dioperasi, tidak
memberikan hasil yang baik, karena sesudah pemakaian yang lama dari
bromocriptin akan menimbulkan fibrosis yang menyulitkan dalam operasi.
Radiasi
Indikasi primer: pasien usia lanjut atau debil yang mempunyai tumor yang besar
yang mengancam struktur neurovaskuler dimana dengan terapi medis tidak
menolong. Sebagai terapi tambahan sesudah operasi, dimana masih terdapat
residual tumor yang tidak membaik dengan bromocriptin.
2002 digitized by USU digital library 7
Pada pasien dengan microprolactinoma yang asimptomatik apakah perlu diterapi
masih kontraversil. Beberapa pasien tanpa terapi ternyata ukuran tumor dan
kadar prolactinnya menurun setelah beberapa tahun.
2.2 Adenoma yang bersekresi growth hormon
Kelebihan hormon ini pada orang dewasa menyebabkan acromegaly sedang
pada anak yang epiphysealnya belum menutup akan menyebabkan gigantisme.
Hormon ini diproduksi dan disekresikan dari sel-sel somatotropik pada lobus
anterior hipofisis sebagai respon terhadap GRF hypothalamus dan di inhibisi oleh
somatostatin. Adanya GH dalam sirkulasi akan merangsang dilepaskannya
somatomedia C yang diproduksii di hati, berperan sebagai umpan balik negatif
terhadap produksi GH.
Hal lain yang menyebabkan hipersekresi dari GH selain adenoma hipofisis yaitu
adanya ektopik adenoma yang berasal dari sisa embryonik divertikulum hipofisis,
tumor payudara, tumor paru dan tumor ovarium. Acromegali jarang disebabkan
karena produksi GRF yang berlebihan karena tumor hypothalamus atau dari
sumber perifer tumor carcinoid dari abdomen. Insiden acremegali pada laki-laki
dan wanita terjadi secara seimbang, biasanya timbul pada dekade ke 5
kehidupan.
Gejala:
Gejala timbul secara gradual karena pengaruh meningginya kadar GH secara
kronik. Dari sejumlah kasus menunjukkan bahwa gejala yang timbul lebih
karena efek kompresi lokal dari masa tumor, bukan karena gangguan
somatiknya.
Gejala dini berupa ukuran sepatu dan baju membesar, lalu timbul visceromegali,
sindroma jeratan saraf, hiperhidrosis, macroglossia, muka yang kasar dan skin
tags yaitu perubahan pada cutis dan jaringan subcutis yang lambat berupa
fibrous hyperplasia terutama ditemukan pada jari-jari, bibir, telinga dan lidah.
Adanya skin tags ini penting karena hubungannya dengan keganasan pada
kolon, sekitar 40% pasien dengan akromegali disertai polip kolon dimana lebih
dari 50% adalah adenomatous. Dari berbagai penelitian menunjukkan bahwa
insiden Ca kolon lebih tinggi pada penderita akromegali dari pada populasi
umumnya. Oleh karena itu pada penderita akromegali yang berusia > 50 tahun,
pada pasien yang menderita acromegali > 10 tahun, penderita akromegali
dengan lebih dari 3 skin tags sebaiknya menjalani skrining untuk penyakit kolon.
Diagnosa:
Pengukuran kadar GH tidak bisa dipercaya karena sekresi hormon ini yang
berupa cetusan, walaupun pada keadaan adenoma. Normal kadar basal Gh <1
ng/ml, pada penderita acromegali bisa meningkat sampai > 5 ng/ml, walaupun
pada penderita biasanya tetap normal. Pengukuran kadar somatemedin C lebih
bisa dipercaya, karena kadarnya yang konstan dan meningkat pada acromegali.
Normal kadarnya 0,67 U/ml, pada acromegali mebningkat sampai 6,8 U/ml.
Dengan GTT kdar GH akan ditekan sampai < 2 ng/ml sesudah pemberian
glukosa oral (100 gr), kegagalan penekanan ini menunjukkan adanya
hpersekresi dari GH. Pemberian GRF atau TRH perdarahan infus akan
meningkatkan kadar GH, pada keadaan normal tidak. Jika hipersekresi telah
ditentukan maka pastikan sumbernya dengan MRI, jika dengan MRI tidak
terdapat sesuatu adenoma hipofisis harus dicari sumber ektopik dari GH.
2002 digitized by USU digital library 8
Terapi:
Penderita acromegali yang tidak diterapi umumnya akan berakibat fatal, pasien
akan menderita kegagalan jantung, DM, disfigurement dan kemungkinan
kebutaan yang semuanya ini akan memperpendek umur harapan hidupnya.
Dengan operasi diharapkan adanya perbaiakn klinik, kadar GH < 5 ng/ml dan
level somatomedin C yang normal. Beberapa jam atau hari post optikus 95%
kadar GH akan kembali normal, tetapi untuk somatomedin C memerlukan
beberapa minggu sampai bulan untuk kembali normal.
Dengan terapi obat-obatan seperti estrogen, klorpromazin dan anti serotonergic
agents menunjukkan efek yang sedikit
Pada pemebrian bromokriptin dengan dosis yang lebih tinggi dri pada yang
diperlukan untuk mengontrol prolactinomas, bisa menurunkan kadar GH 5-10
ng/ml pada > 20% pasien, keluhan somatik membaik,pembengkakan jaringan
lunak berkurang dan jumlah keringat menurun.
Idealnya hipersekresi dari GH ini bisa ditekan dengan pemberian somatostatin,
tetapi ini memerlukan dosis yang multipel karena half life dari somatostatin yang
sangat pendek. Sekarang dipakai analog somatostatin yaitu octreotide
(sandostatin) yang mempunyai half life yang lebih panjang sehingga pemberian
bisa dilakukan 3x/heroin 100-200 mg SC, pada acromegaly obat ini 90% efektif,
efek sampingnya yaitu diarhea dimana insidennya meningkat seiring dengan
bertambah lamanya pemakaian.
Terapi radiasi pada pasien ini mempunyai resiko yang besar, dimana > 25%
akan menyebabkan hypopituitarism, gangguan pada N opticus dan chiasma.
Lethargy, gangguan daya ingat, cranial nerve palsies dan nekrosis tumor disertai
perdarahan. Banyak pasien kadar Ghnya tetap tinggi sesudah terapi radiasi.
2.3 Adenoma yang bersekresi glikoprotein (TSH, FSH, LH)
TSH berperan dalam pengaturan kecepatan metabolik melalui hormon tiroid,
sedang LH dan FSH berperan dalam pematangan sexual dan fungsi reproduksi.
Insidensi tumor ini sangat jarang sekitar 1% dari seluruh tumor hipofisis.
Gejala:
• Kecuali untuk tumor yang bersekresi TSH, yang menunjukkan
hypertiroidism glycoprotein secreting adenoma tidak memberikan gejala
yang spesifik sehubungan dengan hipersekresinya, sehingga adenoma ini
biasanya baru ditemukan sesudah memberikan efek kompresi pada
struktur didekatnya seperti chiasma optikum atau tangkai hipofisis
• Hipertiroid yang disebabkan oleh TSH adenoma berbeda dengan Graves
disease, graves disease merupakan penyakit yang diturunkan, dimana
terdapat resistensi yang efektif terhadap hormon tiroid yang
menyebabkan pengaruh umpan balik negatif dari hormon tiroid atau TSH
lemah, sehingga timbul hipersekresi TSH. Kelainan ini sering bersamaan
dengan bisu tuli, stipled epiphyse dan goiter, ini yang membedakan
dengan hipertiroid akibat adanya adenoma.
• Pada hipertiroid akibat TSH adenoma, biasanya lebih banyak mengenai
wanita, gejala lainnya yaitu gangguan lapang pandang, pretibial edema
dankadar serum immunoglobulim stimulasi tiroid jumlahnya sedikit.
Diagnosa
Hormon TSH, LH dan FSH masning-masing terdiri dari alpha dan beta
subarakhnoid unit, alpha subarakhnoid unitnya sama untuk ketiga hormon,
sedang beta subarakhnoid unitnya berebda. Dengan teknik immunohistokimia
yang spesfik bisa diukur kadar dari alpha subarakhnoid unit atau kadar alpha
2002 digitized by USU digital library 9
dan beta subarakhnoid unit. Pada tumor ini terdapat peninggian kadar alpha
subarakhnoid unit, walaupun pada adenoma non fungsional 22% kadar alpha
subarakhnoid unitnya juga meningkat.
MRI dengan gadolinium, pada pemeriksaan ini tidak bisa dibedakan antara
adenoma yang satu dengan yang lainnya
Terapi:
Operasi sebaiknya dikombinasikan dengan terapi radiasi, walaupun hasilnya
tidak menggembirakan sehingga indikasi terapi radiasi tetap kontroversi. Terapi
percobaan dengan somatostatin analog dan bromocriptin hasinya tidak sebaik
pada prolactinoma atau pada acronegali.
2.4 Adenoma yang bersekresi ACTH
Definisi: Cushing disease adalah suatu keadan hypercortisolemi yang disebabkan
karena produksi ACTH yang berlebihan dari adenoma hipofisis. Sedang yang
dimaksud Cushing’s syndroma adalah kondisi hypercortisolemia yang disebabkan
dari berbagai sumber selain hipofisis.
Hal lain yang timbul oleh karena kelebihan ACTH yaitu Nelson’s syndroma
berpigmentasi oleh karena adanya stimulasi melanin stimulating hormon yang
bereaksi silang dengan ACTH, terjadi pada 10-20% pasien yang menjalani
operasi adrenalectomy sebagai terapi dari cushing’s syndromanya.
Banyak tumor kelenjar hipofisis yang bersekresi, ternyata juga memproduksi
amophilic ACTH (Cushing’s disease). Ini merupakan tantangan untuk diagnosa
dan terapi karena biasanya tumor ini gejalanya tidak khas dimana dengan MRI
dan CT scan jelas terlihat tetapi pilihan terapi tetap sulit. Dilainpihak
hypercortisolemia ini akan menimbulkan problem yang berat, kondisi pasien
akan semakin memburuk dengan kelemahan dan nyeri otot yang difus, emosi
menjadi labil, timbul aterosklerosis, hipertensi, DM, osteoporosis, kegemukan,
kemungkinan infeksi ulkus peptikum dan trombosis yang memerlukan
identifikasi dan penanganan yang segera.
Pada kebanyakan kasus hypercortisolemia pada orang dewasa disebabkan oleh:
a. mikroadenoma hipofisis bagian anterior (60-80% kasus) yang sering kali
tidak terlihat pada pemeriksaan dengan MRI dan CT scan
b. Adanya ektopik over produksi ACTH dan atau CRH dari suatu benign atau
malignant tumor kelenjar adrenal yang mensintesa cortisol secara otonom
(10-20% kasus)
c. Adanya produksi ACTH ektopik dari tumor paru-paru (terutama) pankreas (1-
10%kasus)
d. Hal lainnya yaitu iatrogenik, alkoholik atau depresif pseudo cushing state;
membedakan antara cushing’s disease dengan cushing’s syndroma
merupakan problem diagnostik tersendiri.
Pada cushing hipofisis primer (dengan single adenoma) sebaiknya dilakukan
adenomectomy secara selektif, pada hyperplasia sebaiknya dioperasi dengan
hypophysectomy komplit atau menggonakan obat-obatan untuk mengatur
stimulasi tersebut. Pada intermediate lobe cushing’s mungkin masih berrespon
terhadap bromokriptin, dimana pada cushing’s type yang lain terapi medis tidak
berefek.
Gejala:
• Biasanya menyerang wanita sekitar usia 40 tahun
• Khas ditandai dengan truncal obesity, hipertensi, hirsutisme (waita),
hyperpigmentasi, diabetes atau glukosa intoleran, amenorrhea, acne,
striae abdominal, buffallo hump dan moon facies
2002 digitized by USU digital library 10
• Kelainan endokrinologik yang berat ini sudah muncul pada tahap sangat
dini dari tumornya yang menyulitkan dalam mendeteksi dan identifikasi
sumbernya.
Diagnosa:
• CRH dilepaskan dari hipotalamus dan akan merangsang sekresi ACTH dari
adenihipofisis, ACTH akanmeningkatkan produksi dan sekresi cortisol dari
adrenal cortex yang selanjutnya dengan umpan balik negatif akan
menurunkan ACTH. Pada kondisi stres fisik dan metabolik kadar cortisol
meningkat, secara klinik sulit mengukur ACTH, maka cortisol dalam
sirkulasi dan metabolitnya dalam urine digunakan untuk status diagnosa
dari keadaan kelebihan adrenal. Cushing’s syndroma secara klinik mudah
dikenal tapi sulit untuk menentukan etiologinya.
• Pengukuran plasma kortisol, kortisol urine dan derifatnya seacra basal
maupun dalam respon terhadap dexametason, maupun penetuan plasma
ACTH, bisa dipakai untuk menentukan apakah penyakitnya primer adrenal
, hipofisis atau sumber keganasan ektopi.
• Jika datatsb seimbang maka diperlukan pengukuran CRH dan test
perangsangan CRH dengan pengukuran ACTH dan cortisol perifer atau
pada aliran vena sinus petrosus bilateral untuk membuktikan adanya
Cushing’s disease. Jika sudah ditentukan sumbernya hipofisis, akan lebih
sulit lagi menentukan bagian hipofisis yang mana yang memproduksi
hipersereksi ACTH.
Testnya sebagai berikut:
1. untuk screning tentukan kadar cortisol pada jam 8 pagi, normal kadarnya
6-18 ug/100 ml. Jika meningkat, hiperkortikolisme. Jika menurun
hipoadrenalisme (primer atau sekunder)
2. jika hiperkortikolisme terjadi, tentukan etiologinya dengan test supresi
deksametason dosis rendah, dimana deksametason akan menekan
pelepasan ACTH tapi pada tumor adrenal atau pada produksi ACTH
ektopik (terutama Ca bronkhus) supresi tidak terjadi, caranya sebagai
berikut:
a. test dosis rendah semalam, beri dexametason 1 mg po pada jam 11
malam, ukur kadar kortisol pada jam 8 keesokan harinya.
Cortisol < 5ug/dl ; bukan Cushing’s syndrome
Cortisol 5-10 ug/dl ; meragukan, ulangi test
Cortisol > 10 ug/dl; kemungkinan Caushing’s syndrome, fals positip
terjadi pada pseudo caushing states yaitu pada:
- 15% pasien gemuk
- penderita sakit kronik
- pada kadar estrogen yang meninggi
- uremia
- depresi
- alkoholik
- pasien yang mendapat terapi phenobarbital atau
phenitoin
b. test dosis rendah 2 hari
digunakan jika tes dosis rendah semalam hasilnya equivocal. Berikan
dexameason 0,5 mg po tiap 6 jam selama 2 hari dimulai jam 6 pagi.
Ambil urine 24 jam sebelum tes dan pada hari kedua tes, normal
dexametason akan menekan 17 hydorxycorticosteroids kurang dari 4
mg/24 jam. Pada Caushing’s syndrome hasilnya akan meningkat.
2002 digitized by USU digital library 11
c. Untuk membedakan Caushing’s disesase dengan ektopik ACTH atau
tumor adrenal dilakukan tes supresi dexametason dosis tinggi (>20%
pasien dengan Caushing’s disesase tidak akan disupresi dengan
deksametason dosis tinggi, phenitoin akan mempengaruhi test ini)
sebagai berikut:
• Ambil plasma cortisol pada jam 8 pagi, lalu berikan 8 mg
deksametason po pada jam 11 malam, ukur plasma cortisol
pada jam 8 keesokan harinya. 95% Caushing’s disesase plasma
cortisolnya akan rendah (50% kurang dari basal). Pada ektopik
ACTH atau tumor adrenal tidak berubah
• CRH test, beri CRH 0,1 ug/kg IV bolus, pada Caushing’s
disesase plasma ACTH dan level cortisol akan meningkat,
sedangkan pada ektopik ACTh dan tumor adrenal tidak
• Karena banayak dari kasus ini tidak terbukti dengan
pemeriksaan MRI, maka teknik sampling sinus petrosus
digunakan untuk memastikan diagnosa dan mengarahkan
operasi sekreksesi karean bisa dipakai untuk menentukan sisi
dimana makroadenoma hipofisis berada. Pasien dengan
Caushing’s disesase mempunyai level ACTH yang tinggi yang
diproduksi langsung dari kelenjar hipofisis dan levelnya
mengarah pada isi dimana adenoma berada. Perbedaan antara
kadar ACTH perifer dengan ACTH hipofisis yaitu kadar di perifer
tidak tetap, pada sekresi ACTH yang ektopik dimana kelenjar
hipofisis diinhibisi, kadar ACTH perifer maupun hipofisis nya
keduanya tidak tetap, jug atidak ada perbedaan anatara keduia
sisi pada pengukuran secara sampling sinus petrosus.
Pada hyperplasia corticotrophs kadar ACTH sentral meningkat pada
kedua sisi kelenjar.
Indikasi pemeriksaan pengukuran kadar ACTH pada aliran vena
sinus petrosus bilateral:
1. pasien dengan data lab yang seimbang, dimana sumber
pasti produksi ACTH yang berlebihan sulit ditentukan dan
pemeriksaan MRI negatip.
2. pasien dengan data lab jelas mengarah ke kel hipofisis,
tetapi MRI negatif, maka arah operasi reseksi
hemihyposectomy jika adenoma tidak terlihat pada waktu
operasi, ditentukan dari pemerikasaan ini, yaitu pada arah
dimana kadar ACTHnya meningkat sesudah dirangsang
CRH. Hal ini perlu diperhatikan terutama jika pasien muda
terutama wanita yang masih subur.
3. pasien yang tidak ada perbaikan sesudah operasi, maka
perlu dievaluasi kembali apakah betul menderita
Caushing’s disesase atau kelebihan ACTHnya akibat dari
produksi ektopik.
Terapi:
1. Operasi
Operasi mikro transphenoidal explorasi dari kelenjar hipofisis dengan selektif
adenomectomy atau partial atau hemihyposectomy.pada tumor yang sangat
besar atau invasive maka sesudah operasi dilanjutkan dengan terapi radiasi,
terapi obat-obatan dan kadang-kadang adrenalectomy. Angka kesembuhan
penyakit ini sesudah menjalani terapi operasi < 90%. Kurang dari 10% pasien
dengan ACTH hipofise yang berlebihan disebabkan karena basophilik
hiperplasia yang meliputi seluruh kelenjar. 3,7-9,3% pasien akanmengalami
2002 digitized by USU digital library 12
rekurensi, karena sel-sel sekitar peritumor tidak terangkat atau etiologi
primernya bukan pada tumornya tetapi karena stimulasi yang berlebihan dari
CRH nya sehingga ACTHnya tetap berlebih. Insiden kekambuhan besar pada
pasien yang menjalani operasi selektif adenomectomy.
Pasen yang tidak membaik sesudah menjalani operasi selektif terjadi pada:
a. pasien dengan adenoma yang invasive
b. pasien dengan microadenoma yang tidak teridentifikasi
c. pasien dengan hyperplasia corticotrop
d. pasien dengan ektopik sekresi ACTH atau CRH
Pada operasi pengangkatan tumor secara komplit maka akan timbul
hypocortisolemia untuk 3-6 bulan, jika cortisolnya tetap normal maka akan
cenderung mengalami rekurensi.
2. Radiasi
Steretactic radiasi digunakan secara tersendiri atau kombinasi dengan
operasi, dilaporkan angka kesembuhannya bervariasi antara 50-100%.
Karena diperlukan waktu yang lama untuk mencapai efek kesembuhan dan
karena tingginya insiden hipopituitarism maka indikasi terapi radiasi hanya
ditujukan jika operasi gagal.
3. Obat-obatan
Terapi dengan obat-obatan bertujuan untuk memblok ACTH atau produksi
cortisol, dimana terapi hanya mengobati gejalanya saja tanpa menghilangkan
tumornya. Hal ini seringkali perbaikan yang didapat tidak lengkap dan sangat
potensil untuk timbulnya efek samping yang berbahaya. Obat-obatan yang
digunakan sebagai berikut:
a. Ketoconazole
Merupakan obat anti jamur yang poten, akan menghambat adrenal
steroidogenesis dengan memblok 11 beta hydroksilase (dan enzim lain
yang terlibat pada produksi cortisol dan endosteron) umumnya
ditoleransi dengan baik, walaupun kadang-kadang yimbul sedasi jikan
mungkin dosis dinaikkan secukupnya sampai tercapai eucortisolemia,
ini sulit. Sering ada maksudnya untuk mencapai sukresi adrenal tapi
suatu saat tambahan terapi steroid terus dimakan karena berbagai
step dalam produksi steroid berhenti, pengaruh terhadap kolesterol,
viatmin D, mineralocorticoid, produksi estrogen dan endogren
memerlukan evaluasi yang ketat sebelum ketococonacole digunakan
untuk jangka panjang. Obat ini digunakan jika diagnosa sudah tegak
tapi terapi operasi terapi ditangguhkan, atau pada keadaan diamana
etiology yang pasti dari Caushing’s disesase masih kabur dan terapi
sementara ini cocok.
b. Cyproheptadin
Merupakan obat anti serotonin (maupun anti histamin dan anti
cholinergic), diduga menurut Kriger et al bisa digunakan untuk
mengatur pelepasan ACTH, tetapi dari berbagai laporan obat ini
mengecewakan.
c. Bromocriptine
Obat ini digunakan terutama untuk menurunkan produksi prolastin,
dilaporkan penggunaan obat ini dengan atau tanpa cyproheptadin akan
menormalkan produksi cortisol pada penderita Caushing’s syndrome,
terutama pada pasien dengan intermediate lobe Caushing’s disesase
dimana sering bersama dengan meningginya kadar prolastin. Efek
samping yang terjadi yaitu kelemahan, mual, aneroksia dan pening
kepala.
2002 digitized by USU digital library 13
LOBUS POSTERIOR HIPOFISIS
Lobus posterior hipofisis atau neuro hipofisis, merupakan perluasan langsung dari
juluran sel-sel saraf disupra optik dan inti para ventrikuler hypothalamus. Sel-sel
saraf di hipothalamus memproduksi 2 hormon peptida ADH (vasopresin) dan
oxcytocin, kedua hormon ini lalu dialirkan ke bawah dengan memakai carrier protein,
neurophysin melalui tangkai hipofisis ke lobus posterior lalu ditimbun dan
disekresikan. Defisit dari hormon ini jarang yang disebabkan karena tumor hipofisis.
Sekresi ADH meningkat pada keadaan sebagai berikut:
1. penurunan volume plasma atau peningkatan osmolalitas plasma
2. beta adrenergenic dan cholinergic agonist akan merangsang
pelepasan ADH, sedang alpha adrenergic agonist dan atropin akan
menghambat sekresinya
3. nyeri dan stress
4. nicotin, morphin dan barbiturat akan meningkatkan ADH, sedang
alkohol, phenytoin dan narcotic antagonis akan menurunkan ADH
Oxytocin berperan dalam merangsang kontraksi uterus pada waktu
melahirkan dan pada waktu pengeluaran ASI pada ibu menyusui.
SIADH (syndrome Inappropriate Anti Diuretic Hormone)
Adalah keadan dimana sekresi ADH yang berlebihan, bisa dari hipothalamus
atau sumber ektopik. ADH yang berlebih akan menyebabkan retensi air yang
berlebihan karena ketidakmampuan untuk mengekspresikan urine, sehingga
tinmbul hiponatremia dan hypotonicity dari plasma.
Etiologi SIADH:
• Adanya ektopik produksi ADH oleh tumor terutama Oat cell carcinoma
• TBC paru
• Trauma kepala
• SAB
• Meningitis
• Carbamazepine
• Chlorpropamide
• Tricyclic anti depressant
• Sesudah operasi transphenoidal
Gejala:
• Penambahan berat badan
• Kelemahan
• Lethargy
• Mental confusion
• Penurunan kesadaran sampai koma dan bangkitan
DIABETES INSPIDUS
Adalah penyakit yang disebabkan oleh karena kadar ADH yang rendah
Etiologi:
• Sellar dan para sellar tumor
• Hypothalamic sarcaidosis
• Sesudah operasi hipofisis atau hypothalamic
• Trauma kepala
• Ruptur aneurisma intrakranial
• Idiopatik
2002 digitized by USU digital library 14
Gejala:
• Polyuria, haus yang berlebihan
• Polydipsi dan nocturia
• Volume urine dari beberapa liter sampai 15 liter/hari
• Jika volume air dibatasi maka akan menyebabkan dehidrasi, demam dan
hipotensi dan kematian.
KESIMPULAN
Pasien dengan adenoma hipofisis fungsionil menunjukkan adanya beberapa problem
dan diagnostik dan penatalaksanaannya, apakah pasien akan diterapi dengan obatobatan
saja atau operasi seperti halnya pada adenoma non fungsionil. Juga harus
dipertimbangkan faktor-faktor usia, kondisi kesehatan dan ukuran tumor sebelum
memilih terapi yang diinginkan. Dalam penatalaksanaan pasien ini penting harus
diperhatikan follow up yang ketat terhadap kemungkinan timbulnya rekurensi dari
tumornya
DAFTAR PUSTAKA
Charles RN. Anatomi susunan saraf manusia, alih bahasa A. Munandar. Jakarta :
EGC, 1982: 275-289
Douglas W. Principle of neurosurgery. London : Mosby, 1994: 32.2-34.19
John G. basic neurology. 2nd ed. New York: McGraw Hill, 1992: 236
Lindsay. Neurology and neurosurgery illustrated. 2nd ed. Edinburg: Churchill
Livingstone, 1991: 325-335
Mark S. Handbook of neurosurgery. 3rd ed. Florida: Greenberg Graphics, 1993: 631-
644
Martin AS. Manual of neuroligic therapeutics. 5th ed. Boston : Little Brown, 1995:
235-237
Raymond D. Principles of neurology. 4th ed. New York: McGraw Hill, 1989: 540-543
Walton. Brain’s disease of the nervous system. 9th ed. New York: Oxford University
Press, 1985: 164-166
Woodruff. Fundamentals of neuroimaging. Philadelphia : WB Saunders, 1993: 275-
289

0 komentar: