Jumat, 28 Oktober 2011

Kanker serviks



A. Pengertian
Kanker serviks adalah penyakit akibat tumor ganas pada daerah mulut rahim sebagai akibat dari adanya pertumbuhan jaringan yang tidak terkontrol dan merusak jaringan normal di sekitarnya (FKUI, 1990; FKKP, 1997).

B. Etiologi
Penyebab kanker serviks belum jelas diketahui namun ada beberapa faktor resiko dan predisposisi yang menonjol, antara lain :

1. Umur pertama kali melakukan hubungan seksual
Penelitian menunjukkan bahwa semakin muda wanita melakukan hubungan seksual       semakin besar mendapat kanker serviks.  Kawin pada usia 20 tahun dianggap masih terlalu muda

2. Jumlah kehamilan dan partus
Kanker serviks terbanyak dijumpai pada wanita yang sering partus.  Semakin sering partus semakin besar kemungkinan resiko mendapat karsinoma serviks.

3. Jumlah perkawinan
Wanita yang sering melakukan hubungan seksual dan berganti-ganti pasangan mempunyai faktor resiko yang besar terhadap kankers serviks ini.

4. Infeksi virus
Infeksi virus herpes simpleks (HSV-2) dan virus papiloma atau virus kondiloma akuminata diduga sebagai factor penyebab kanker serviks

5. Sosial Ekonomi
Karsinoma serviks banyak dijumpai pada golongan sosial ekonomi rendah mungkin faktor sosial ekonomi erat kaitannya dengan gizi, imunitas dan kebersihan perseorangan.  Pada golongan sosial ekonomi rendah umumnya kuantitas dan kualitas makanan kurang hal ini mempengaruhi imunitas tubuh.

6. Hygiene dan sirkumsisi
Diduga adanya pengaruh mudah terjadinya kankers serviks pada wanita yang pasangannya belum disirkumsisi.  Hal ini karena pada pria non sirkum hygiene penis tidak terawat sehingga banyak kumpulan-kumpulan smegma.

7. Merokok dan AKDR (alat kontrasepsi dalam rahim)
Merokok akan merangsang terbentuknya sel kanker, sedangkan pemakaian AKDR akan berpengaruh terhadap serviks yaitu bermula dari adanya erosi diserviks yang kemudian menjadi infeksi yang berupa radang yang terus menerus, hal ini dapat sebagai pencetus terbentuknya kanker serviks.

C. Klasifikasi pertumbuhan sel akan kankers serviks

Mikroskopis
1. Displasia
Displasia ringan terjadi pada sepertiga bagaian basal epidermis. Displasia berat terjadi pada dua pertiga epidermihampir tidak dapat dibedakan  dengan karsinoma insitu.

2. Stadium karsinoma insitu
Pada karsinoma insitu perubahan sel epitel terjadi pada seluruh lapisan epidermis menjadi karsinoma sel skuamosa.  Karsinoma insitu yang tumbuh didaerah ektoserviks, peralihan sel skuamosa kolumnar dan sel cadangan endoserviks.

3. Stadium karsionoma mikroinvasif.
Pada karksinoma mikroinvasif, disamping perubahan derajat pertumbuhan sel meningkat juga sel tumor menembus membrana basalis dan invasi pada stoma sejauh tidak lebih 5 mm dari membrana basalis, biasanya tumor ini asimtomatik dan hanya ditemukan pada skrining kanker.

4. Stadium karsinoma invasif
Pada karsinoma invasif perubahan derajat pertumbuhan sel menonjol besar dan bentuk sel bervariasi.  Petumbuhan invasif muncul diarea bibir posterior atau anterior serviks dan meluas ketiga jurusan yaitu jurusan forniks posterior atau anterior, jurusan parametrium dan korpus uteri.

5. Bentuk kelainan dalam pertumbuhan karsinoma serviks
Pertumbuhan eksofilik, berbentuk bunga kool, tumbuh kearah vagina dan dapat mengisi setengah dari vagina tanpa infiltrasi kedalam vagina, bentuk pertumbuhan ini mudah nekrosis dan perdarahan.

Pertumbuhan endofilik, biasanya lesi berbentuk ulkus dan tumbuh progesif meluas ke forniks, posterior dan anterior ke korpus uteri dan parametrium.

Pertumbuhan nodul, biasanya dijumpai pada endoserviks yang lambatlaun lesi berubah bentuk menjadi ulkus.


Markroskopis
1. Stadium preklinis
    Tidak dapat dibedakan dengan servisitis kronik biasa
2. Stadium permulaan
    Sering tampak sebagian lesi sekitar osteum externum
3. Stadium setengah lanjut
    Telah mengenai sebagian besar atau seluruh bibir porsio
4. Stadium lanjut
Terjadi pengrusakan dari jaringan serviks, sehingga tampaknya seperti ulkus dengan jaringan yang rapuh dan mudah berdarah.

D. Gejala Klinis
1. Perdarahan
Sifatnya bisa intermenstruit atau perdarahan kontak, kadang-kadang perdarahan baru terjadi pada stadium selanjutnya.  Pada jenis intraservikal perdarahan terjadi lambat.
2. Biasanya menyerupai air, kadang-kadang timbulnya sebeluma ada perdarahan.    Pada stadium lebih lanjut perdarahan dan keputihan lebih banyak disertai infeksi sehingga cairan yang keluar berbau.

E. Pemeriksaan diagnostik
1. Sitologi/Pap Smear
    Keuntungan, murah dapat memeriksa bagian-bagian yang tidak terlihat.
    Kelemahan, tidak dapat menentukan dengan tepat lokalisasi.
2. Schillentest
Epitel karsinoma serviks tidak mengandung glycogen karena tidak mengikat yodium.  Kalau porsio diberi yodium maka epitel karsinoma yang normal akan berwarna coklat tua, sedang yang terkena karsinoma tidak berwarna.
3. Koloskopi
Memeriksa dengan menggunakan alat untuk melihat serviks dengan lampu dan dibesarkan 10-40 kali.
Keuntungan ; dapat melihat jelas daerah yang bersangkutan sehingga mudah untuk melakukan biopsy.
Kelemahan ; hanya dapat memeiksa daerah yang terlihat saja yaitu porsio, sedang kelianan pada skuamosa columnar junction dan intra servikal tidak terlihat.

4. Kolpomikroskopi
    Melihat hapusan vagina (Pap Smear) dengan pembesaran sampai 200 kali

5. Biopsi
    Dengan biopsi dapat ditemukan atau ditentukan jenis karsinomanya.

6. Konisasi
Dengan cara mengangkat jaringan yang berisi selaput lendir serviks dan epitel gepeng dan kelenjarnya.  Konisasi dilakukan bila hasil sitologi meragukan dan pada serviks tidak tampak kelainan-kelainan yang jelas.

F. Klasifikasi klinis
·  Stage 0:Ca.Pre invasif
·  Stage I: Ca. Terbatas pada serviks
·Stage Ia ; Disertai inbasi dari stroma yang hanya diketahui secara histopatologis
·  Stage Ib : Semua kasus lainnya dari stage I
·Stage II : Sudah menjalar keluar serviks tapi belum sampai kepanggul telah   mengenai dinding vagina.  Tapi tidak melebihi dua pertiga bagian proksimal
·Stage III : Sudah sampai dinding panggula dan sepertiga bagian bawah vagina
·Stage IIIB : Sudah mengenai organ-organ lain.

G. Terapi
1. Irradiasi
    ·Dapat dipakai untuk semua stadium
    · Dapat dipakai untuk wanita gemuk tua dan pada medical risk
    ·Tidak menyebabkan kematian seperti operasi.
2. Dosis
    Penyinaran ditujukan pada jaringan karsinoma yang terletak diserviks
3. Komplikasi irradiasi
    ·Kerentanan kandungan kencing
    · Diarrhea
    ·Perdarahan rectal
    ·Fistula vesico atau rectovaginalis
4. Operasi
    ·Operasi Wentheim dan limfatektomi untuk stadium I dan II
    ·Operasi Schauta, histerektomi vagina yang radikal
5. Kombinasi
    ·  Irradiasi dan pembedahan
       Tidak dilakukan sebagai hal yang rutin, sebab radiasi menyebabkan bertambahnya vaskularisasi, odema.  Sehingga tindakan operasi berikutnya dapat mengalami kesukaran dan sering menyebabkan fistula, disamping itu juga menambah penyebaran kesistem limfe dan peredaran darah.
6. Cytostatika : Bleomycin, terapi terhadap karsinoma serviks yang radio resisten.  5 % dari karsinoma serviks adalah resisten terhadap radioterapi, diangap resisten bila 8-10 minggu post terapi keadaan masih tetap sama.

H. Hubungan Kanker Serviks dengan Masalah Keperawatan

Jika diperhatikan secara keseluruhan maka proses terjadinya Ca. Serviks dan masalah keperawatan yang muncul dapat diperhatikan pada bagan berikut :

Faktor :
            Prilaku                                                             Lingkungan
( Sex aktif, paritas, personal higiene)               ( Polusi,  onkonenik agent, virus,
radiasi)

                                   
                                                Kanker Serviks
 


            Pelayanan  Kesehatan                         Genetika
( Deteksi dini penyakit, laboraorium,                  (Keluarga yang menderita Ca,
 Penanganan kasus P. Kelamin                                        keluarga dengan ambang stress rendah)
 penyuluhan pencegahan Ca. Serviks)
 


- Kelemahan jaringan/ dinding menjadi rapuh   àperdarahan masif à anemia
- Peningkatan kadar leukosit / kerusakan nosiseptor / penekanan pada dinding serviks  àNyeri
- Gangguan peran sebagai istri  dan gangguan gambaran diri à Ggn konsep diri.
- Gejala tidak nyata à adanya berbagai macam tindakan untuk menegakkan diagnose         terdiagnose Ca à kecemasan

I. Konsep Keperawatan
1. Pengkajian
Data dasar
Pengumpulan data pada pasien dan keluarga dilakukan dengan cara anamnesa, pemeriksaan fisik dan melalui pemeriksaan penunjang

Data pasien :
Identitas pasien, usia, status perkawinan, pekerjaan jumlah anak, agama, alamat jenis kelamin dan pendidikan terakhir.

Keluhan utama : pasien biasanya datang dengan keluhan intra servikal dan disertai keputihan menyerupai air.

Riwayat penyakit sekarang :
Biasanya klien pada stsdium awal tidak merasakan keluhan yang mengganggu, baru pada stadium akhir yaitu stadium 3 dan 4 timbul keluhan seperti : perdarahan, keputihan dan rasa nyeri intra servikal.

Riwayat penyakit sebelumnya :
Data yang perlu dikaji adalah :
Riwayat abortus, infeksi pasca abortus, infeksi masa nifas, riwayat ooperasi kandungan, serta adanya tumor. Riwayat keluarga yang menderita kanker.
Keadaan Psiko-sosial-ekonomi dan budaya:
Ca. Serviks sering dijumpai pada kelompok sosial ekonomi yang rendah, berkaitan erat dengan kualitas dan kuantitas makanan atau gizi yang dapat mempengaruhi imunitas tubuh, serta tingkat  personal hygiene terutama kebersihan dari saluran urogenital.

Data khusus:
1. Riwayat kebidanan ; paritas, kelainan menstruasi, lama,jumlah dan warna darah,                      adakah hubungan perdarahan dengan aktifitas, apakah darah keluar setelah koitus, pekerjaan yang dilakukan sekarang
2. Pemeriksaan penunjang
Sitologi dengan cara pemeriksaan Pap Smear, kolposkopi, servikografi, pemeriksaan visual langsung, gineskopi.

2. Diagnosa Keperawatan
a.  Gangguan perfusi jaringan (anemia) b/d perdarahn intraservikal
b.  Gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan b/d penurunan nafsu makan
c. Gangguan rasa nyama (nyeri) b.d proses desakan pada jaringan intra servikal
d. Cemas b.d terdiagnose c.a serviks sekunder akibat kurangnya pengetahuan tentang Ca. Serviks dan pengobatannya.
e. Resiko tinggi terhadap gangguan konsep diri b.d perubahan dalam penampilan terhadap pemberian sitostatika.

3. Perencanaan
 Gangguan perfusi jaringan (anemia) b.d perdarahan masif intra cervikal
     Tujuan :
     Setelah diberikan perawatan selama 1 X 24 jam diharapkan perfusi jaringan membaik :
    
     Kriteria hasil :
     a. Perdarahan intra servikal sudah berkurang
     b. Konjunctiva tidak pucat
     c. Mukosa bibir basah dan kemerahan
     d. Ektremitas hangat
     e. Hb 11-15 gr %
     d. Tanda vital 120-140 / 70 - 80 mm Hg, Nadi : 70 - 80 X/mnt, S : 36-37 Derajat C, RR : 18 - 24 X/mnt.

     Intervensi :
     - Observasi tanda-tanda vital
     - Observasi perdarahan ( jumlah, warna, lama )
     - Cek Hb
     - Cek golongan darah
     - Beri O2 jika diperlukan
     - Pemasangan vaginal tampon.
     - Therapi IV

Gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d penurunan nafsu makan.
     Tujuan :
     - Setelah  dilakukan perawatan kebutuhan nutrisi klien akan terpenuhi

     Kriteria hasil :
     - Tidak terjadi penurunan berat badan
     - Porsi makan yang disediakan  habis.
     - Keluhan mual dan muntah kurang

     Intervensi :
     - Jelaskan tentang pentingnya nutrisi untuk penyembuhan
     - Berika makan TKTP
     - Anjurkan makan sedikit tapi sering
     - Jaga lingkungan pada saat makan
     - Pasang NGT jika perlu
     - Beri Nutrisi parenteral jika perlu.


Gangguan rasa nyaman (nyeri) b.d proses desakan pada jaringan intra servikal

     Tujuan       
     - Setelah dilakukan tindakan 1 X 24 jam diharapka klien tahu cara-cara mengatasi nyeri yang timbul akibat kanker yang dialami

     Kriteria hasil :
     - Klien dapat menyebutkan cara-cara menguangi nyeri yang dirasakan
     - Intensitas nyeri berkurangnya
     - Ekpresi muka dan tubuh rileks

     Intervensi :
     - Tanyakan lokasi nyeri yang dirasakan klien
     - Tanyakan derajat nyeri yang dirasakan klien dan nilai dengan skala nyeri.
     - Ajarkan teknik relasasi dan distraksi
     - Anjurkan keluarga untuk mendampingi klien
     - Kolaborasi dengan tim paliatif nyeri

Cemas yang berhubungan dengan terdiagnose kanker serviks sekunder kurangnya pengetahuan tentang kaker serviks, penanganan dan prognosenya.

    Tujuan :
     Setelah diberikan tindakan selama 1 X 30 menit klien mendapat informasi tentang penyakit kanker yang diderita, penanganan dan prognosenya.

    Kriteria hasil :
     - Klien mengetahui diagnose kanker yang diderita
     - Klien mengetahui tindakan - tindakan  yang harus dilalui klien.
     - Klien  tahu tindakan yang harus dilakukan di rumah untuk mencegah komplikasi.
     - Sumber-sumber koping teridentifikasi
     - Ansietas berkurang
     - Klien mengutarakan  cara mengantisipasi ansietas.

     Tindakan :
     - Berikan kesempatan pada klien dan klien mengungkapkan persaannya.
     - Dorong diskusi terbuka tentang kanker, pengalaman orang lain, serta tata cara mengentrol dirinya.
     - Identifikasi mereka yang beresiko terhadap ketidak berhasilan penyesuaian. ( Ego yang buruk, kemampuan pemecahan masalah tidak efektif, kurang motivasi, kurangnya sistem pendukung yang positif).
     - Tunjukkan adanya harapan
     - Tingkatkan aktivitas dan latihan fisik

Resiko tinggi terhadap gangguan konsep diri b.d perubahan dalam penampilan sekunder terhadap pemberian sitostatika.

     Tujuan :
     Setelah diberikan tindakan perawatan, konsep diri dan persepsi klien menjadi stabil

     Kriteria hasil :
     - Klien mampu untuk mengeskpresikan perasaan tentang kondisinya
     - Klien mampu membagi perasaan dengan perawat, keluarga dan orang dekat.
     - Klien mengkomunikasikan perasaan tentang perubahan dirinya secara konstruktif.
     - Klien mampu berpartisipasi dalam perawatan diri.

     Intervensi :
     - Kontak dengan klien sering dan perlakukan klien dengan hangat dan sikap positif.
     - Berikan dorongan pada klien untuk mengekpresikanbperasaan dan pikian tentang kondisi, kemajuan, prognose, sisem pendukung dan pengobatan.
     - Berikan informasi yang dapat dipercaya dan klarifikasi setiap mispersepsi tentang penyakitnya.
     - Bantu klien mengidentifikasi potensial kesempatan untuk hidup mandiri melewati hidup dengan kanker, meliputi hubungan interpersonal, peningkatan pengetahuan, kekuatan pribadi dan pengertian serta perkembangan spiritual dan moral.
     - Kaji respon negatif terhadap perubahan penampilan (menyangkal perubahan, penurunan kemampuan merawat diri, isolasi sosial, penolakan untuk mendiskusikan masa depan.
     - Bantu dalam penatalaksanaan alopesia sesuai dengan kebutuhan.
     - Kolaborasi dengan tim kesehatan lain yang terkait untuk tindakan konseling secara profesional. 

ANTE NATAL CARE


ANTE NATAL CARE

1.      PENGERTIAN
ANC adalah Pengawasan sebelum persalinan terutama ditujukan pada pertumbuhan dan perkembangan janin dalam rahim
2.      TUJUAN :
*       Pengawasan : Kesh. Ibu, Deteksi dini penyakit penyerta & komplikasi kehamilan, menetapkan resiko kehamilan (tinggi, meragukan dan rendah)
*      Menyiapkan persalinan à well born baby dan well health mother
*      Mempersiapkan pemeliharaan bayi & laktasi
*      Mengantarkan pulihnya kesh. Ibu optimal

3.      BUKTI KEHAMILAN
a.      PRESUMTIF ( Bukti Subjektif)
*      Amenorea
*      Perubahan payudara
*      Mual & muntah (morning sickness)
*      Frekuensi berkemih
*      Leukorea
*      Tanda Chadwiek’s
*      Quickening


b. PROBABILITAS ( Bukti Objektif)
q  Pertumbuhan & perubahan uterus
q  Tanda Hegar’s ( melunaknya segmen bawah uterus)
q  Ballotement (lentingan janin dl uterus saat palpasi)
q  Braxton hick’s (kontraksi selama kehamilan)
q  Perubahan Abdomen
q  Pembesaran abdomen
q  Striae Gravidarum
q  Pigmentasi pada linea nigra
c.       ABSOLUT ( Bukti Positif)
   Terdengar DJJ
   Teraba bagian anak oleh pemeriksa
   Terlihat hasil konsepsi dg USG
   Teraba gerakan janin oleh pemeriksa

4. PEMERIKSAAN PENUNJANG
     LABORATORIUM
     Darah ( Hb, Gol darah, Glukosa, VDRL)
     Urine (Tes kehamilan, protein, glukosa, analisis)
     Pemeriksaan Swab (Lendir vagina & servik)
     U S G
     Jenis kelamin
     Taksiran kelahiran, TBJ, Jumlah cairan amnion,
5. PEMERIKSAAN KEHAMILAN
BILA HPHT TIDAK DIKETAHUI,
USIA KEHAMILAN TENTUKAN DG CARA :
n  TFU ( Cm x 7/8 = Usia dl mgg)
n  Terabanya ballotement di simpisis à12 mgg
n  DJJ (+) dg Dopller à 10-12 mgg
n  DJJ (+) dg fetoscop à 20 mgg
n  Quickening à 20 mgg
n  USG
PERHITUNGAN TAKSIRAN PARTUS
            ( NAGELE) :
n  H + 7
n  B (1-3)             + 9, bila tanggal > 24 + B 1
            B (4-12)           – 3
n  T (1-3)                         + 0
            T (4-12)           + 1

n  PERHITUNGAN TAKSIRAN BERAT JANIN
n  TFU – (11 belum masuk PAP) X 155 = ….gr
n  TFU – (13 sudah masuk PAP) X 155 = ….gr

FREKUENSI KEHAMILAN
u Kunjungan I (12-24 mgg)
      Anamnesis lengkap, pemeriksaan fisik & obstetri, Pemeriksaan lab., Antopo metri, penilaian resiko kehamilan, KIE
u  Kunjungan II ( 28 – 32 mgg )
      Anamnesis, USG, Penilaian resiko kehamilan, Nasehat perawatan payudara & Senam hamil), TT I
u  Kunjungan III ( 34 mgg)
      Anamnesis, pemeriksaan ulang lab. TT II
u  Kunjungan IV, V, VII & VIII ( 36-42 mgg)
     Anamnesis , perawatan payudara & persiapan persalinan

6. PENGKAJIAN ANC
  1. AKTIFITAS / ISTIRAHAT
*      BP ↓ , HR ↑ , Episode Sinkop, Edema
  1. INTEGRITAS EGO à Persepsi diri
  2. ELIMINASI
*      Konstipasi, miksi ↑ , BJ urine ↑ , haemoroid
  1. MAKANAN & CAIRAN
*      morning sickness (TM I), nyeri ulu hati,
*      Penambahan BB ( 8 – 12 kg), hipertrofi gusi (berdarah)
*      Anemi fisiologis  (Hemodilusi)
  1. NYERI / KETIDAK NYAMANAN
*      Kram kaki, nyeri payudara & punggung, Braxton Hicks

  1. PERNAFASAN
*      RR ↑ ,
  1. KEAMANAN
*      Suhu : 36,1o – 37,6 o C ,
*      DJJ ( 12 mgg dg dopler, 20 mgg dg fetoskop)
*      Gerakan janin ( 20 mgg)
*      Quickening  & Ballotement
*      ( 16 – 20 mgg) &
  1. SEKSUALITAS
*      Perubahan seksualitas, leukorea, peingkatan uetrus
*      Payudara ↑ , pigmentasi 
*      Goodell, Hegar, chadwiks
  1. INTERAKSI SSIAL
*      Denial, maturasi, aseptent
  1. PENYULUHAN / PEMBELAJARAN
  2. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK

7. PENGKAJIAN FISIK
         TANDA VITAL, ANTOPOMETRI
         PENGKAJIAN KEPALA
         PENGKAJIAN DADA : paru, jantung, payudara
         PENGKAJIAN ABDOMEN : hepar, abdomen,       uterus (palpasi, inspeksi, auskultasi,    pergerakan janin, his)
         PEMERIKSAAN PANGGUL
         PEMERIKSAAN GENITAL
         PEMERIKSAAN EKSTREMITAS

8. DIAGNOSA KEPERAWATAN  & FOKUS INTERVENSI
1. Resti perubahan nutrisi krg dr kebt tubuh b.d.     Perubahan napsu makan, mual & muntah
n  KH :
n  Menjelaskan komponen diet seimbang prenatal
n  Mengikuti diet yg dianjurkan
n  Mengkonsumsi Zat besi/ vitamin
n  Menunjukkan BB ( min 1,5 kg pd TM I )
n  Intervensi :
n  Tentukan asupan nutrisi /24 jam
n  Kaji ttg pengetahuan kebutuhan diet
n  Berikan nformasi tertulis diet prenatal & suplemen
n  Tanyakan keyakinan diet ss budaya
n  Timbang BB & kaji BB pregravid
n  Berikan BB selama TM I yang optimal
n  Tinjau tentang mual & muntah
n  Pantau kadar Hb, test urine (aseton, albumin & glukosa)
n  Ukur pembesaran uterus
n  Kolaborasi : program diet ibu hamil
2. Resti defisit vol. Cairan b.d.
perubahan napsu makan, mual & muntah
      KH :
      Mengidentifikasi & melakukan kegiatan u frekwensi & keparahan mual/muntah
      Mengkonsumsi cairan ss kebt.
      Mengidentifikasi tanda & gejala dehidrasi
      Intervensi :
      Auskultasi DJJ
      Tentukan beratnya mual/muntah
      Tinjau riwayat (gastritis, kolesistiasis)
      Anjurkan mempertahankan asupan cairan
      Kaji suhu, turgor kulit, membran mukosa, TD, intake & output, Timbang BB
      Anjurkan asupan minum manis, makan sedikit tapi sering, makan roti kering sebelum bangun tidur

3. Perubahan eliminasi urine b.d. Pembesaran uterus, GFR, sensitifitas VU
   KH :
§  Mengungkapkan penyebab sering kencing
§  Mengidentifikasi cara mencegah stasis urinarius
    Intervensi :
§  Berikan informasi perubahan  berkemih
§  Anjurkan menghindari posisi tegak & supine dl waktu lama
§  Berikan informasi intake cairan 6-8 gls/hr, penurunan intake 2-3 j pra rest
§  Kaji nokturia, anjurkan keagel exercise
§  Tekankan higiene toileting, memakai celana dr katun & menjaga vulva tetap kering
§  Kolaborasi : Kaji riwayat medis (hipertensi, peny. ginjal & jantung)

4. Ketidak efektifan pola pernafasan b.d. Pergeseran diagfragma sekunder kehamilan
l  KH :
l  Melaporkan ↓ keluhan
l  Mendemonstrasikan fungsi pernapasan
l   Intervensi :
l  Kaji status pernapasan
l  Pantau riwayat medis (alergi, rinitis, asma, TBC)
l  Kaji kadar HB à tekankan pentingnya vit.
l  Informasikan hubungan program latihan & kesullitan pernafasan
l  Anjurkan istirahat & latihan berimbang
l  Tinjau tindakan pasien u mengurangi keluhan

5. Ketidak nyamanan b.d. Perubahan fisik dan pengaruh hormonal
*      KH :
n  Mengidentifikasi tindakan yg melegakan & menghilangkan Ketidak nyamanan
n  Melaporkan penatalaksanaan Ketidak nyamanan
*       Intervensi :
n  Catat derajat rasa tidak nyaman minor
n  Evaluasi derajat rasa tidak nyaman selama pemeriksaan lanjutan
n  Anjurkan pemakaian korset uterus
n  Tekankan menghindari stimulasi puting
n  Intruksikan perawatan puting mendatar
n  Kaji adanya haemoroid
n  Intruksikan penggunaan kompres dingin & intake tinggi serat pada haemoroid
n  Intruksikan posisi dorsofleksi pd kaki & mengurangi keju/susu
n  Kaji tingkat kelelahan dengan aktifitas dl keluarga
n  Kolaborasi : suplemen kalsium

6. Perubahan pola seksualitas b.d. Perubahan struktur tubuh & ketidaknyaman
  • KH :
    • Mendiskusikan perubahan dl hasrat seksual
    • Identifikasi langkah mengatasi situasi
    • Melaporkan adaptasi perubahan & modifikasi situasi selama kehamilan
  • Intervensi :
    • Tentukan pola aktivitas seksual pasangan
    • Kaji dampak kehamilan terhadap kehamilan
    • Diskusikan miskonsepsi seksualitas kehamilan
    • Anjurkan pilihan posisi koitus selama kehamilan
    • Informasikan tindakan yg dpt kontraksi ( stimulasi puting susu, orgasme pd wanita, sperma)
    • Kolaborasi : konseling bila masalah tidak teratasi

7. Resti konstipasi b.d. Penurunan peristaltik, penekanan uterus
      KH :
      Mempertahankan pola fungsi usus normal
      Mengidentifikasi perilaku beresiko
      Melaporkan tindakan u eliminasi
      Intervensi :
      Tentukan kebiasaan eliminasi sebelum hamil & perhatikan perubahan selama hamil
      Kaji adanya haemoroid
      Informasikan diet : buah, sayur, serat & intake cairan adekuat
      Anjurkan latihan ringan
      Kolaborasi : berikan pelunak feces bila diet tak efektif