Tampilkan postingan dengan label ASKEP MATERNITAS. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ASKEP MATERNITAS. Tampilkan semua postingan

Minggu, 18 Desember 2011

ASKEP SUNGSANG


Sungsang


A.    PENGERTIAN
Adalah suatu kelainan posisi janin memanjang dengan kepala di bagian atas rahim dan bokongnya ada di bagian bawah

B.     ETIOLOGI
1.      Bobot janin relatif  rendah.
Hal ini mengakibatkan janin bebas bergerak. Ketika menginjak usia 28-34 minggu kehamilan, berat janin makin membesar, sehingga tidak bebas lagi bergerak. Pada usia tersebut, umumnya janin sudah menetap pada satu posisi. Kalau posisinya salah, maka disebut sungsang.
2.      Rahim yang sangat elastis.
Hal ini biasanya terjadi karena ibu telah melahirkan beberapa anak sebelumnya, sehingga rahim sangat elastis dan membuat janin berpeluang besar untuk berputar hingga minggu ke-37 dan seterusnya.
3.      Hamil kembar.
Adanya lebih dari satu janin dalam rahim menyebabkan terjadinya perebutan tempat. Setiap janin berusaha mencari tempat yang nyaman, sehingga ada kemungkinan bagian tubuh yang lebih besar (yakni bokong janin) berada di bagian bawah rahim.
4.      Hidramnion (kembar air).
Volume air ketuban yang melebihi normal menyebabkan janin lebih leluasa bergerak walau sudah memasuki trimester ketiga.

5.      Hidrosefalus.
Besarnya ukuran kepala akibat kelebihan cairan (hidrosefalus) membuat janin mencari tempat yang lebih luas, yakni di bagian atas rahim.
6.      Plasenta previa.
Plasenta yang menutupi jalan lahir dapat mengurangi luas ruangan dalam rahim. Akibatnya, janin berusaha mencari tempat yang lebih luas yakni di bagian atas rahim.
7.      Panggul sempit.
Sempitnya ruang panggul mendorong janin mengubah posisinya menjadi sungsang.
8.      Kelainan bawaan.
Jika bagian bawah rahim lebih besar daripada bagian atasnya, maka janin cenderung mengubah posisinya menjadi sungsang.

C.    DETEKSI KEHAMILAN SUNGSANG
1.      Melakukan perabaan perut bagian luar.
Cara ini dilakukan oleh dokter atau bidan. Janin akan diduga sungsang bila bagian yang paling keras dan besar berada di kutub atas perut. Perlu diketahui bahwa kepala merupakan bagian terbesar dan terkeras dari janin.
2.      Melalui pemeriksaan bagian dalam menggunakan jari.
Cara ini pun hanya bisa dilakukan oleh dokter atau bidan. Bila di bagian panggul ibu lunak dan bagian atas keras, berarti bayinya sungsang.
3.      Ultrasonografi (USG).
D.    TINDAKAN SEBELUM PERSALINAN
Untuk mengembalikan posisi janin ke posisi yang normal, tindakan yang bisa dilakukan adalah:
1.      Dianjurkan untuk melakukan posisi bersujud (knee chest position), dengan posisi perut seakan-akan menggantung ke bawah.
Cara ini harus rutin dilakukan setiap hari sebanyak 2 kali, misalnya pagi dan sore. Masing-masing selama 10 menit. Bila posisi ini dilakukan dengan baik dan teratur, kemungkinan besar bayi yang sungsang dapat kembali ke posisi normal. Kemungkinan janin akan kembali ke posisi normal, berkisar sekitar 92 persen. Dan posisi bersujud ini tidak berbahaya karena secara alamiah memberi ruangan pada bayi untuk berputar kembali ke posisi normal
2.      Externalcephalic versin/ECV.
Metode ini adalah mengubah posisi janin dari luar tubuh sang ibu.  Cara ini dilakukan saat kandungan mulai memasuki usia 34 minggu. Sayangnya, cara ini menimbulkan rasa sakit bahkan kematian janin, akibat kekurangan suplai oksigen ke otaknya.

E.     TINDAKAN PERSALINAN
Tindakan persalinan pada janin dengan posisi sungsang :
1.      Persalinan Pervaginam
Proses persalinan yang salah, jelas menimbulkan risiko, seperti janin mengalami pundak patah atau saraf di bagian pundak tertarik (akibat salah posisi saat menarik bagian tangannya ke luar), perdarahan otak (akibat kepalanya terjepit dalam waktu yang lama), patah paha (akibat salah saat menarik paha ke luar), dan lain-lain. Untuk itu biasanya dokter menggunakan partograf, alat untuk memantau kemajuan persalinan.
2.      Sectio Caesarea
Jika persalinan dinilai berjalan lambat, maka harus segera dilakukan operasi bedah sesar.

ASKEP SUNGSANG


Sungsang


A.    PENGERTIAN
Adalah suatu kelainan posisi janin memanjang dengan kepala di bagian atas rahim dan bokongnya ada di bagian bawah

B.     ETIOLOGI
1.      Bobot janin relatif  rendah.
Hal ini mengakibatkan janin bebas bergerak. Ketika menginjak usia 28-34 minggu kehamilan, berat janin makin membesar, sehingga tidak bebas lagi bergerak. Pada usia tersebut, umumnya janin sudah menetap pada satu posisi. Kalau posisinya salah, maka disebut sungsang.
2.      Rahim yang sangat elastis.
Hal ini biasanya terjadi karena ibu telah melahirkan beberapa anak sebelumnya, sehingga rahim sangat elastis dan membuat janin berpeluang besar untuk berputar hingga minggu ke-37 dan seterusnya.
3.      Hamil kembar.
Adanya lebih dari satu janin dalam rahim menyebabkan terjadinya perebutan tempat. Setiap janin berusaha mencari tempat yang nyaman, sehingga ada kemungkinan bagian tubuh yang lebih besar (yakni bokong janin) berada di bagian bawah rahim.
4.      Hidramnion (kembar air).
Volume air ketuban yang melebihi normal menyebabkan janin lebih leluasa bergerak walau sudah memasuki trimester ketiga.

5.      Hidrosefalus.
Besarnya ukuran kepala akibat kelebihan cairan (hidrosefalus) membuat janin mencari tempat yang lebih luas, yakni di bagian atas rahim.
6.      Plasenta previa.
Plasenta yang menutupi jalan lahir dapat mengurangi luas ruangan dalam rahim. Akibatnya, janin berusaha mencari tempat yang lebih luas yakni di bagian atas rahim.
7.      Panggul sempit.
Sempitnya ruang panggul mendorong janin mengubah posisinya menjadi sungsang.
8.      Kelainan bawaan.
Jika bagian bawah rahim lebih besar daripada bagian atasnya, maka janin cenderung mengubah posisinya menjadi sungsang.

C.    DETEKSI KEHAMILAN SUNGSANG
1.      Melakukan perabaan perut bagian luar.
Cara ini dilakukan oleh dokter atau bidan. Janin akan diduga sungsang bila bagian yang paling keras dan besar berada di kutub atas perut. Perlu diketahui bahwa kepala merupakan bagian terbesar dan terkeras dari janin.
2.      Melalui pemeriksaan bagian dalam menggunakan jari.
Cara ini pun hanya bisa dilakukan oleh dokter atau bidan. Bila di bagian panggul ibu lunak dan bagian atas keras, berarti bayinya sungsang.
3.      Ultrasonografi (USG).
D.    TINDAKAN SEBELUM PERSALINAN
Untuk mengembalikan posisi janin ke posisi yang normal, tindakan yang bisa dilakukan adalah:
1.      Dianjurkan untuk melakukan posisi bersujud (knee chest position), dengan posisi perut seakan-akan menggantung ke bawah.
Cara ini harus rutin dilakukan setiap hari sebanyak 2 kali, misalnya pagi dan sore. Masing-masing selama 10 menit. Bila posisi ini dilakukan dengan baik dan teratur, kemungkinan besar bayi yang sungsang dapat kembali ke posisi normal. Kemungkinan janin akan kembali ke posisi normal, berkisar sekitar 92 persen. Dan posisi bersujud ini tidak berbahaya karena secara alamiah memberi ruangan pada bayi untuk berputar kembali ke posisi normal
2.      Externalcephalic versin/ECV.
Metode ini adalah mengubah posisi janin dari luar tubuh sang ibu.  Cara ini dilakukan saat kandungan mulai memasuki usia 34 minggu. Sayangnya, cara ini menimbulkan rasa sakit bahkan kematian janin, akibat kekurangan suplai oksigen ke otaknya.

E.     TINDAKAN PERSALINAN
Tindakan persalinan pada janin dengan posisi sungsang :
1.      Persalinan Pervaginam
Proses persalinan yang salah, jelas menimbulkan risiko, seperti janin mengalami pundak patah atau saraf di bagian pundak tertarik (akibat salah posisi saat menarik bagian tangannya ke luar), perdarahan otak (akibat kepalanya terjepit dalam waktu yang lama), patah paha (akibat salah saat menarik paha ke luar), dan lain-lain. Untuk itu biasanya dokter menggunakan partograf, alat untuk memantau kemajuan persalinan.
2.      Sectio Caesarea
Jika persalinan dinilai berjalan lambat, maka harus segera dilakukan operasi bedah sesar.

ASKEP SEROTINUS


SEROTINUS
A. Definisi
      Serotinus adalah kehamilan yang melewati 294 hari atau 42 minggu lengkap. Diagnosa usia kehamilan didapatkan dengan perhitungn usia kehamilan dengan rumus Naegele atau dengan penghitungan tinggi fundus uteri ( Kapita Selekta Kedokteran jilid 1 ).

B. Etiologi
Penyebab terjadinya kehamilan post matur belum diketahui dengan  jelas, namun diperkirakan dipengaruhi oleh 2 faktor yaitu:
Masalah ibu:
Ƙ    Cervix belum matang
Ƙ    Kecemasan ibu
Ƙ    Persalinan traumatis
Ƙ    Hormonal
Ƙ    Factor herediter
Masalah bayi:
Ƙ    Kelainan pertumbuhan janin
Ƙ    Oligohidramnion.

C. Tanda dan Gejala
Ƙ   Gerakan janin jarang ( secara subjektif kurang dari  7x / 20 menit atau secara objektif kurang dari 10x / menit.
Ƙ   Pada bayi ditemukan tanda lewat waktu yang terdiri dari:
a.           Stadium I  : kulit kehilangan vernix caseosa dan terjadi maserasi sehingga kulit menjadi kering, rapuh dan mudah terkelupas.
b.          Stadium II : seperti stadium I, ditambah dengan pewarnaan mekoneum ( kehijuan di kulit.
c.           Stadium III :  seperti stadium I, ditambah dengan warna kuning pada kuku, kulit dan tali pusat.
Ƙ   Berat badan bayi lebih berat dari bayi matur.
Ƙ   Tulang dan sutura lebih keras dari bayi matur
Ƙ   Rambut kepala lebih tebal.

D.  Pathways



E. Pemeriksaan Penunjang
  1. USG : untuk mengetahui usia kehamilan, derajat maturitas             plasenta.
b.                                  Kardiotokografi : untuk menilai ada  atau tidaknya gawat janin.
c.                                   Amniocentesis : pemeriksaan sitologi air ketuban.
d.                                  Amnioskopi : melihat kekeruhan air ketuban.
e.                                   Uji Oksitisin : untuk menilai reaksi janin terhadap kontraksi uterus.
f.                                   Pemeriksaan kadar estriol dalam urine.
g.      Pemeriksaan sitologi vagina.

F. Pengaruh terhadap ibu dan bayi
Ibu:
Persalinan postmatur dapat menuebabkan distosia karena  kontraksi uterus tidak terkoordinir, janin besar, molding kepala kurang, sehingga sering dijumpai partus lama, kesalahan letak, inersia uteri, distosia bahu, perdarahan post partum yag mengakibatkan meningkatnya angka morbiditas dan mortalitas.
Bayi :
Jumlah kematian janin atau bayi pada kehamilan 42 minggu 3x lebih besar dari kehamilan 40 minggu. Pengaruh pada janin bervariasi, biantaranya berat janin bertambah, tetap atau berkurang,

G. Penatalaksanaan
  1. Setelah usia kehamilan lebih dari  40- 42 minggu, yang terpenting adalah monitoring janin sebaik – baiknya.
  2. Apabila tidak ada tanda – tanda insufisiensi plasenta, persalinan spontan dapat ditunggu dengan pengawasan ketat.
  3. Lakukan pemeriksaan dalam untuk menentukan kematangan cervik, apabila sudah matang, boleh dilakukan induksi persalinan.
  4. Persalinan pervaginam harus diperhatikan bahwa partus lama akan sangat merugikan bayi, janin postmatur kadang – kadang besar dan kemungkinan disproporsi cephalopelvix dan distosia janin perlu diperhatikan. Selain itu janin post matur lebih peka terhadap sedative dan narkosa.
  5. Tindakan operasi section caesarea dapat dipertimbangkan bila pada keadaan onsufisiensi plasenta dengan keadaan cervix belum matang, pembukaan belum lengkap, partus lama dan terjadi gawat janin, primigravida tua, kematian janin dalam kandungan,pre eklamsi, hipertensi menahun, anak berharga dan kesalahan letak janin.

SECTIO CAESAREA
A. Definisi
Cara melahirkan janin dengan membuat sayatan pada dinding uterus melalui dinding depan perut atau vagina atau suatu histerotomia untuk melahirkan janin dari dalam rahim.

B. Jenis- jenis sectio caesarea
a. Abdomen ( Sectio Caesarea Abdominalis )
*         Sectio Caesarea Transperitonealis
1.      Sectio Caesarea klasik atau corporal dengan insisi m,emanjang pada corpus uteri.
      Dilakukan dengan membuat sayatan memanjang pada corpus uteri kira – kira 10 cm.
Kelebihan:
-          Mengeluarkan janin lebih cepat
-      Tidak menyebabkan komplikasi tertariknya vesica urinaria
-      Sayatan bisa diperpanjang proximal atau distal.
Kekurangan
-          Mudah terjadi penyebaran infeksi intra abdominal karena tidak ada retroperitonealisasi yang baik.
-          Sering terjadi rupture uteri pada persalinan berikutnya.
  1. Sectio Caesarea ismika atau profunda atau low cervical dengan insisi pada segmen bawah rahim.
Dilakukan dengan membuat sayatan melintang ( konkaf ) pada segmen bawah rahim, kira – kira 10 cm.
 Kelebihan:
-          Penutupan luka lebih mudah.
-          Penutupan luka dengan  retroperitonealisasi yang baik.
-          Tumpang tindih dari peritoneal flap baik sekali untuk menahan penyebaran isi uterus ke rongga peritoneum.
-          Perdarahan kurang.
-          Kemungkinan terjadi rupture uteri spontan kurang / lebih kecil daripada cara klasik.
Kekurangan:
-          Luka dapat melebar ke kiri , ke kanan  dan ke bawah sehingga dapat menyebabkan arteri Uterina putus sehingga terjadi pendarahan hebat.
-          Keluhan pada vesica urinaria post operatif tinggi.
*         Sectio Caesarea Extraperitonealis yaitu tanpa membuka peritoneum parietalis dengan demikian tidak membuka cavum abdomen.
b. Vagina (( Sectio Caesarea Vaginalis )
Menurut arah sayatan rahim, section caesarea dapat dilakukan sebagai berikut:
*         Sayatan memanjang ( longitudinal menurut Kronig.
*         Sayatan melintang (  transversal ) menurut Kerr.
*         Sayatan huruf T ( T incision )

C. Komplikasi
a. Infeksi puerperal ( nifas )
*         Ringan ditandai dengan adanya kenaikan suhu beberapa hari saja.
*         Sedang, ditandai dengan kenaikan suhu lebih tinggi, dehidrasi dan perut kembung.
*         Berat, dengan peritonitis, sepsis atau ileus paralitik.
b. Pendarahan, disebabkan oleh:
*         Banyak pembuluh darah terputus.
*         Atonia uteri
*         Perdarahan pada plasental bed.
d.  Luka Vesica Urinaria, emboli paru dan keluhan kandung kemih bila retroperitonealisasi terlalu tinggi.
e.   Kemungkinan rupture uteri spontan pada kehamilan mendatang.

D. Asuhan Keperawatan
a. Pengkajian data utama klien
*     Identitas Klien
*     Status kehamilan
*     Riwayat kehamilan
*     Riwayat kesehatan
b. Pengkajian fungsional
*     Tinjauan ulang catatan prenatal dan intra operatif serta indikasi section caesarea.
*     Sirkulasi : pucat, riwayat hipertensi, pendarahan ( 600 – 800 mL )
*     Integritas ego : gembira, marah, takut, pengalaman kelahiran.
*     Eliminasi: urine, bising usus.
*     Makanan / cairan : abdomen lunak, tidak ada distensi, nafsu makan, berat badan, mual, muntah.
*     Neurosensori : kerusakan gerakan, tingkat anastesi
*     Nyeri : trauma bedah, nyeri penyerta, distensi vu, mulut kering.
*     Pernafasan : bunyi nafas
*     Keamanan : balutan abdomen, eritema, bengkak.
*     Seksualitas : Kontraksi fundus, letak, lochea
*     Aktivitras : kelelahan, kelemahan, malas.
c. Pengkajian lanjutan
*     Observasi  tanda – tanda vital.
*     Pengkajian head to toe
d. Diagnosa keperawatan
*     Gangguan rasa nyaman, nyeri b.d trauma pembedahan.
*     Resiko tinggi infeksi b.d penyembuhan jaringan belum terjadi
*     Kerusakan integritas kulit b.d luka section caesarea.
*     Perubahan eliminasi urine b.d trauma mekanis, efek anastesi.
e. Intervensi
1. Gangguan rasa nyaman, nyeri b.d trauma pembedahan
Kriteria hasil:
*     Klien mampu mengidentifikasi dan mengatasi nyeri/ ketidaknyamanan dengan tepat.
*     Klien mengungkapkan nyeri berkurang.
*     Klien relaks, mampu istirahat.
Intervensi
*     Tentukan karakteristik dan lokasi ketidaknyamanan, perhatikan isyarat verbal dan non verbal.
*     Monitor tanda – tanda vital
*     Ubah posisi klien, berikan tindakan kenyamanan dan posisi nyaman.
*     Ajarkan latihan nafas dalam.
*     Anjurkan ambullasi dini.
*     Kolaborasi pemberian analgesic.
2. Resiko tinggi infeeksi b.d penyembuhan jaringan belum terjadi.
Kriteria hasil :
*     Klien bebas dati tanda – tanda infeksi.
*     Tanda – tanda vital dalam batas normal.
*     Pantau tanda – tanda vital, perhatikan peningkatan suhu.
*     Observasi proses penyembuhgan luka.
*     Pertahankan teknik aseptic pada perawatan luka.
*     Observasi terhadap adanya drainase.
*     Kolaborasi pemberian antibiotika sesuai indikasi.



Daftar Pustaka:
  1. Cunningham. Mac Donald. Grant obstetric Williams. Ed 18 Jakarta: EGC, 1995.
  2. Hamilton PM, Dasar – dasar keperawatan maternitas Ed 6, Jakarta : EGD. 1995.
  3. Mansjoer, Arif, Kapita selekta kedokteran jilid 1 Ed 3, Jakarta : Media Aesculapius. 1999
  4. Mochtar R. Sinopsis obstetric jilidf 1. Ed 2. Jakarta: EGC.1998
  5. Dongoes, Moorhouse, Rencana perawatan maternal/ bayi Ed 1, Jakarta : EGC 2001.